Jumat, 27 April 2018
Sabtu, 23 Desember 2017
Pengantar Bisnis (Penjelasan Bisnis Internasional)
BISNIS INTERNASIONAL
A. Pengertian Bisnis Internasional
Pengertian
Bisnis Internasional adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati
batas-batas negara. Definisi ini tidak hanya termasuk perdagangan internasional
dan pemanufakturan di luar negeri, tetapi juga industri jasa yang berkembang di
bidang- bidang seperti transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan,
konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar dan komunikasi massa.
B. Pengertian Bisnis Internasional Menurut Para Ahli
B. Pengertian Bisnis Internasional Menurut Para Ahli
1. Glos, Steade dan Lowry
Bisnis
merupakan sekumpulan aktifitas yang dilakukan untuk menciptakan dengan cara
mengembangkan dan mentransformasikan berbagai sumber daya menjadi barang atau
jasa yang diinginkan konsumen.
2. Musselman dan Jackson
Bisnis merupakan suatu aktifitas yang memenuhi kebutuhan dan ekonomis masyarakat dan perusahaan diorganisasikan untuk terlibat dalam aktifitas tersebut.
Bisnis merupakan suatu aktifitas yang memenuhi kebutuhan dan ekonomis masyarakat dan perusahaan diorganisasikan untuk terlibat dalam aktifitas tersebut.
3. Ball,
McCullach, Frantz, Geringer, dan Minor
Bisnis
Internasional merupakan suatu bisnis yang kegiatannya melampui batas negara,
yang mencakup perdagangan internasional, pariwisata, transportasi dan yang
lainnya.
4. Daniels,
Radebaugh dan Sullivan
Bisnis
internasional yaitu semua transaksi komersial baik oleh swasta maupun
pemerintah diantara dua negara atau lebih.
C. Pengertian
Bisnis Internasional Berdasarkan Cakupannya
1. Cakupan ruang lingkup domestik atau
lokal
Dalam
bisnis yang dalam melakukan transaksi-transaksi atau aktivitas bisnisnya
terbatas kepada wilayah lokal atau sebatas dalam negeri saja.
2. Cakupan ruang lingkup regional
Dalam
bisnis yang berada dalam satu daerah kawasan, biasanya dengan beberapa negara
dalam satu benua. Misalkan ASEAN, Eropa dan yang lainnya.
3. Cakupan ruang lingkup internasional
Suatu
bisnis yang dalam ruang lingkupnya lebih luas lagi dari yang domestik atau
regional, dan perdagangan yang dilakukanpun lebih jauh lagi dalam pemasarannya.
4. Cakupan ruang lingkup bisnis
multinasional
Bisnis
yang dalam memulai dengan memfokuskan pada pemanfaatan pengalaman dan produk
perusahaan lalu perusahaan tersebut melakukan peranan baru atas perbedaan dan
keunikan lingkungan dalam negara tadi, yag bertujuan untuk melakukan adaptasi
pemasaran perusahaan pada kebutuhan dan keinginan yang baru dari pelanggan
negara itu.
5. Cakupan ruang lingkup bisnis global atau
transnasional
Suatu
bisnis yang memfokuskan pada pengalaman, pemanfaatn aset, dan juga produk
perusahaan secara global dengan melakukan penyesuaian pada apa benar-benar unik
dalam setiap negara.
D. Perdagangan Internasional (International Trade)
Dalam
perdagangan internasional yang merupakan transaksi antar Negara itu biasanya
dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan cara ekspor dan impor. Dengan
adanya transaksi ekspor dan impor tersebut maka timbul neraca perdagangan antar
negara (balance of tread).
Suatu negara
dapat memiliki surplus neraca perdagangan atau devisit neraca perdagangannya. Neraca perdagangan yang surplus –>
keadaan dimana negara tersebut memiliki nilai ekspor yang lebih besar
dibandingkan dengan nilai impor yang dilakukan dari negara partner dagangnya. Dengan neraca perdagangan yang mengalami
surplus ini maka apabila keadaan yang lain konstan maka aliran kas masuk ke
Negara itu akan lebih besar dengan aliran kas keluarnya ke negara partner
dagangnya tersebut. Besar kecilnya aliran uang kas masuk dan keluar antar
negara disebut neraca pembayaran (balance of paymnets).
Jika neraca
pembayaran mengalami surplus à negara mengalami pertambahan devisa. Jika negara
itu mengalami devisit neraca perdagangannya maka berarti nilai impornya
melebihi nilai ekspor yang dapat dilakukannya dengan negara lain. Jadi, negara
tersebut mengalami devisit neraca pembayaran dan menghadapi pengurangan devisa
Negara.
E. Pemasaran
International (International Marketing)
Pemasaran
internasional yang merupakan keadaan suatu perusahaan dapat terlibat dalam
suatu transaksi bisnis dengan negara lain, perusahaan lain ataupun masyarakat
umum di luar negeri. Transaksi bisnis internasional ini pada umumnya merupakan
upaya untuk memasarkan hasil produksi di luar negeri.
Dalam hal ini
maka pengusaha akan terbebas dari hambatan perdagangan dan tarif bea masuk
karena tidak ada transaksi ekspor impor. Dengan melaksanakan kegiatan produksi
dan pemasaran di negeri asing maka tidak terjadi kegiatan ekspor impor. Produk
yang dipasarkan dapat berupa barang dan/ atau jasa. Transaksi ini dapat ditempuh dengan
cara:
1. Licencing
Sebuah
bentuk hubungan kerjasama dimana pemilik hak dari sebuah kekayaan intelektual,
seperti hak merek dagang, paten, copyright, disain industri dan lain
sebagainnya, membolehkan pihak lain untuk mengggunakan salah satu dari hak yang
dimilikinya dengan pengganti uang bayaran atau biaya lisensi (dapat berupa
sejumlah uang atau royalti). Pihak lain tersebut atau licensee akan
menggunakan hak kekayaan interlektual itu serta memproduksinya untuk berbagai
keperluan dan menjualnya kepada publik.
2. Franchising
Sebuah
kontrak hubungan kerjasama antara pihak franchisor (pemilik bisnis) dan pihak
franchisee (investor), dimana franchisor membolehkan franchisee untuk
menggunakan merek dagang dan sistem bisnisnya, serta memberikan pelatihan dan
petunjuk bisnis dan melakukan kontrol serta pengawasan keatasnya, sebagai
pengganti franchisee diminta memberikan sejumlah bayaran untuk semua
itu. Ada dua jenis bayaran yang mesti dikeluarkan oleh
franchisee; franchisee fee (biaya franchise) dan royalty
fee (biaya royalti) yang dibayar secara berkelanjutan dan terus menerus
selama kontrak hubungan berjalan.
3. Management Contracting
Pengaturan
dimana satu perusahaan menyediakan mekanisme manajemen dalam satu atau semua
area kepada perusahaan lain. Contoh jaringan hotel Hilton di dunia yang
kepemilikannya kepunyaan orang-orang tertentu yang berlainan namun untuk
manajemen hotelnya langsung disediakan oleh jaringan Hilton.
4. Joint Venturing
Hubungan
kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk membuat satu perusahaan atau
bisnis. Kedua belah pihak telah setuju untuk memberikan modal mereka untuk
membangun usaha baru dan membuat satu perjanjian yang saling mengikat diantara
mereka. Pihak yang terlibat bisa berasal dari luar negeri atau dalam negeri.
5. Multinational Coporation (MNC)
Perusahaan
multinasional pada hakikatnya adalah suatu perusahaan yang melaksanakan kegiatan
secara internasional atau dengan kata lain melakukan operasinya di beberapa
Negara. Perusahaan macam ini sering disebut Multinasional Corporations (MNC).
Setiap Negara akan terpengaruh oleh tindakan yang dilakukan oleh Negara lain.
Hal ini terjadi karena dengan cara yang sangat cepat kita dapat mengetahui
suatu kejadian yang terjadi di setiap Negara di dunia ini seiring dengan kemajuan
teknologi dan komunikasi.
Timbulah
kecenderungan bahwa permintaan ataupun kebutuhan masyarakat di mana pun di
dunia ini mendekati hal yang sama. Kebutuhan akan barang-barang konsumsi atau
untuk kehidupan sehari-hari cenderung tidak berbeda antara Negara. Oleh karena
kesamaan inilah yang mendorong perusahaan untuk beroperasi secara
Internasional. Selanjutnya, perusahaan mencoba untuk mencari tempat untuk
memproduksi barang dan memasarkannya ke dunia, sehingga akan lebih ekonomis dan
kompetitif.
Adanya batasan
ekspor-impor antar negara mendorong suatu perusahaan untuk hanya memproduksi
barang di negeri sendiri dan kemudian menjualnya di negeri itu juga meskipun
pemiliknya adalah dari luar negeri. Dengan demikian, pembatasan ekspor-impor
menjadi tidak berlaku lagi baginya.
Contoh
perusahaan multinasional: Coca Cola, Johnson & Johnson, Nestle dari
Switzerland, Unilever dari Belanda dan lnggris, Bayer dati Jerman, dan
sebagainya.
6. Marketing in Home Country by Host
Country
F. Alasan
Melakukan Bisnis Internasional
Suatu negara
atau suatu perusahaan melakukan transaksi bisnis internasional baik dalam
bentuk perdagangan internasional yang umumnya memiliki pertimbangan /alasan.
Pertimbangan tersebut meliputi pertimbangan ekonomis, politis ataupun sosial
budaya. Bisnis internasional memang tidak dapat dihindari karena tidak ada satu
negara pun yang dapat mencukupi seluruh kebutuhan negerinya dari barang-barang
atau produk yang dihasilkan oleh negara itu sendiri.
Hal ini
disebabkan karena terjadinya penyebaran yang tidak merata dari sumber daya baik
dari sumber daya alam modal maupun sumber daya manusia. Ketidakmeratanya sumber
daya mengakibatkan adanya keunggulan tertentu baik suatu Negara tertentu yang
memiliki sumber daya tertentu. Contohnya Australia yang memiliki daratan yang
sangat luas yang memiliki jumlah penduduk yang sangat sedikit, sebaliknya
Negara Hong Kong yang memiliki daratan yang sangat sempit tapi jumlah
penduduknya sangat padat.
Oleh karena itu,
maka dapat kita lihat beberapa alasan untuk melaksanakan bisnis internasional
antara lain berupa :
1. Spesialisasi
antar bangsa–bangsa
Dalam hubungan dengan keunggulan atau kekuatan tertentu beserta kelemahannya maka suatu negara haruslah menentukan pilihan strategis untuk memproduksikan suatu komoditi yang strategis yaitu :
Dalam hubungan dengan keunggulan atau kekuatan tertentu beserta kelemahannya maka suatu negara haruslah menentukan pilihan strategis untuk memproduksikan suatu komoditi yang strategis yaitu :
- Memanfaatkan secara maksimal kekuatan yang ternyata benar-benar paling unggul sehingga dapat menghasilkannya secara lebih efisien dan paling murah.
- Mengkonsentrasikan perhatiannya untuk memproduksikan atau menguasai komoditi yang memiliki kelemahan yang tertinggi bagi negerinya.
Strategi
tersebut berkaitan erat dengan adanya dua buah konsep keunggulan yang dimiliki
oleh suatu negara dibanding negara lain dalam bidang tertentu, yaitu:
* Keunggulan absolute (absolute advantage)
Suatu negara dapat dikatakan memiliki keunggulan absolut apabila negara itu memegang monopoli dalam berproduksi dan perdagangan terhadap produk tersebut. Hal ini dapat dicapai jika tidak ada negara lain yang dapat menghasilkan produk tersebut sehingga negara itu menjadi satu-satunya negara penghasil.
Suatu negara dapat dikatakan memiliki keunggulan absolut apabila negara itu memegang monopoli dalam berproduksi dan perdagangan terhadap produk tersebut. Hal ini dapat dicapai jika tidak ada negara lain yang dapat menghasilkan produk tersebut sehingga negara itu menjadi satu-satunya negara penghasil.
* Keunggulan
komperatif (comparative advantage)
Konsep Keunggulan komparatif merupakan konsep yang lebih realistik dan banyak terdapat dalam bisnis Internasional, dimana suatu negara memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menawarkan produk tersebut dibandingkan dengan negara lain.
Konsep Keunggulan komparatif merupakan konsep yang lebih realistik dan banyak terdapat dalam bisnis Internasional, dimana suatu negara memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menawarkan produk tersebut dibandingkan dengan negara lain.
G. Tahap-Tahap
Dalam Memasuki Bisnis Internasional
Perusahaan
yang memasuki bisnis internasional pada umumnya terlibat atau melibatkan diri
secara bertahap dari tahap yang paling sederhana yang tidak mengandung resiko
sampai dengan tahap yang paling kompleks dan mengandung risiko bisnis yang sangat
tinggi. Dalam memasuki bisnis internasional ada beberapa yaitu:
1. Ekspor
Insidentil
Dalam
rangka untuk masuk ke dalam dunia bisnis Internasional suatu perusahaan pada
umumnya dimulai dari suatu keterlibatan yang paling awal yaitu dengan melakukan
ekspor insidentil. Dalam tahap awal ini pada umumnya terjadi pada saat adanya
kedatangan orang asing di negeri kita kemudian ada yang membeli barang-barang
kemudian kita harus mengirimkannya ke negeri asing itu.
2. Ekspor Aktif
(Purchasing)
Tahap
terdahulu dan dapat berkembang terus kemudian adanya hubungan bisnis yang rutin
dan kontinyu, bahkan transaksi yang semakin aktif. Keaktifan hubungan transaksi
bisnis tersebut ditandai dengan semakin berkembangnya jumlah dan jenis komoditi
perdagangan Internasional. Pada tahap aktif ini perusahaan negeri sendiri mulai
aktif melaksanakan manajemen atas transaksi itu.
3. Penjualan
Lisensi
Tahap
berikutnya adalah tahap penjualan Iisensi. Dalam tahap ini Negara pendatang
menjual lisensi atau merek dari produknya kepada negara penerima. Dalam tahap
yang dijual adalah hanya merek atau lisensinya saja, sehingga negara penerima
dapat melakukan manajemen yang cukup luas terhadap pemasaran maupun proses
produksinya termasuk bahan baku serta peralatannya. Untuk keperluan pemakaian lisensi
tersebut maka perusahaan dan negara penerima harus membayar fee atas lisensi
itu kepada perusahaan asing tersebut.
4. Franchising
Tahap
berikutnya merupakan tahap yang lebih aktif lagi yaitu perusahaan di suatu
negara menjual tidak hanya lisensi atau merek dagangnya saja akan tetapi
lengkap dengan segala atributnya termasuk peralatan, proses produksi,
resep-resep campuran proses produksinya, pengendalian mutunya, pengawasan mutu
bahan baku maupun barang jadinya, serta bentuk pelayanannya. Cara ini sering
dikenal sebagai bentuk “Franchising”.
Dalam hal bentuk
Franchise ini maka perusahaan yang menerima disebut
sebagai Franchisee dan perusahaan pemberi disebut
sebagai Franchisor. Pada umumnya berhasil bagi jenis usaha tertentu
misalnya bidang kuliner (makanan).
Contohnya KFC
(Kentucky Fried Chiken), Mc Donalds, California Fried Chiken (CFC), Hoka Bento,
Hanamasa, dan sebagainya.
Contoh Franchise dari
Indonesia adaIah Es Teler 77, Ayam Goreng NY. Suharti, dan sebagainya. Kebaikan
yang antara lain :
- Manajemen sistem yang sudah teruji.
- Memiliki nama yang sudah terkenal.
- Performance record yang sudah mapan untuk alat penilaian.
Sebaliknya
bentuk ini juga memiliki kejelekan yaitu :
- Biaya tinggi untuk menrlapatkan Franchise
- Keputusan bisnis akan dibatasi oleh Francilisor
- Sangat dipengaruhi oleh kegagalan dari Franchise lain.
Apabila
terdapat kegagalan akan timbul
anggapan bahwa bentuk franchise yang lain juga tidak baik.
5. Pemasaran di
Luar Negeri (Active Marketing)
Tahap
berikutnya adalah bentuk Pemasaran di Luar negeri. Bentuk ini akan memerlukan
intensitas manajemen serta keterlibatan yang lebih tinggi karena perusahaan
pendatang (Host Country) harus aktif dan mandiri untuk melakukan manajemen
pemasaran bagi produknya itu di negeri asing (Home Country). Pengusaha
pendatang yang merupakan orang asing harus mampu untuk mengetahui perilaku
(segmentasi) di negeri penerima itu sehingga dapat dilakukan program-program
pemasaran yang efektif.
6. Produksi dan
Pemasaran di Luar Negeri
Tahap
yang terakhir adalah tahap yang paling intensif dalam melibatkan diri pada
bisnis internasional yaitu tahap “Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri”. Tahap
ini juga disebut sebagai “Total International Business”. Bentuk inilah yang
menimbulkan MNC (Multy National Corporation) yaitu Perusahaan Multi Nasional.
Dalam tahap ini perusahaan asing datang dan mendirikan perusahaan di negeri
asing dengan segala modalnya, kemudian memproduksi di negeri itu, lalu menjuaI
hasil produksinya itu di negeri itu juga. Bentuk ini memiliki unsur positif
bagi negara yang sedang berkembang karena dalam bentuk ini negara penerima
tidak perlu menyediakan modal yang sangat banyak untuk mendirikan pabrik
tersebut.
H. Manfaat
Perdagangan Internasional
Adapun
manfaat yang dapat diperoleh dari perdagangan internasional bagi suatu negara,
yang diantaranya sebagai berikut ini:
- Untuk mendapatkan pertukaran teknologi, yang berguna mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
- Untuk meningkatkan penyebaran sumber daya alam.
- Untuk menjalin persahabatan antar negara.
- Untuk membuka lapangan pekerjaan.
- Untuk menambah jumlah barang.
- Untuk memperbaiki kualitas barang.
- Dan untuk mendapatkan keuntungan.
I. Ciri-Ciri
Perdagangan Internasional
Beberapa
ciri umum dari perdagangan
internasional yang diantaranya sebagai berikut ini:
- Ruang lingkupnya meliputi seluruh dunia.
- Alat pembayaran menggunakan mata uang asing atau internasional.
- Kualitas barang harus yang berstandar internasional.
- Bisa melakukan transaksi tanpa perlu bertatap muka, misalnya seperti eksportir dalam negeri tidak perlu bertatap muka dengan inportir luar negeri begitupun sebaliknya.
- Hukum yang digunakan adalah hukum internasional.
- Untuk mengimport barang dikenakan pajak, dan lain-lain.
J. Faktor-faktor
pendorong perdagangan Internasional
Adapun
beberapa faktor yang menjadi pendorong dari perdagangan internasional, yang
diantaranya sebagai berikut ini:
1. Memperluas
pasar
Pasar
merupakan tempat bertemunya antar penjual dan pembeli atau bisa disebut juga
sebagai tempat pertukaran barang, yang dimana di pasar akan terjadi transaksi
jual beli barang apa yang sangat dibutuhkan oleh individu ataupun suatu negara.
Adapun tujuan lain dari transaksi misalnya seperti: Mendapatkan barang atau
jasa yang di inginkan dan untuk mendapatkan keuntungan.
2. Perbedaan
pada suatu negara, misalnya seperti:
Perbedaan
sumber daya alam, letak geografis, iklim, keahlian penduduk, biaya tenaga
kerja, tingkatan harga, struktur ekonomi dan struktur sosial.
3. Untuk
mendapatkan manfaat dari sepesialisasi
Maksud
dari mendapatkan manfaat dari spesialisasi yaitu bahwa negara tersebut
bisa mendapatkan barang dan jasa yang belum atau tidak bisa di produksi
sendiri.
4. Menimpor
teknologi yang modern
Teknologi
sangat berguna untuk mempercepat pembangunan maupun pertumbuhan ekonomi.
Demikian
artikel yang berisi tentang pengertian perdagangan internasional. Semoga dapat
kamu pahami, terimakasih telah berkunjung dan mohon maaf jika ada kesalahan.
K. Hambatan
Dalam Memasuki Bisnis Internasional
Melaksanakan
bisnis internasional tentu saja akan lebih banyak memiliki hambatan ketimbang
di pasar domestik. Negara lain tentu saja akan memiliki berbagai kepentingan
yang sering kali menghambat terlaksananya transaksi bisnis internasional.
Disamping itu kebiasaan atau budaya negara lain tentu saja akan berbeda dengan
negeri sendiri. Oleh karena itu maka terdapat beberapa hambatan dalam bisnis
internasional yaitu :
1. Batasan perdagangan dan tarif bea masuk
Tarif
bea masuk adalah pajak yang dikenakan terhadap barang yang diperdagangkan baik
barang impor maupun ekspor.
2. Perbedaan bahasa, sosial budaya/cultural
Perbedaan
dalam hal bahasa seringkali merupakan hambatan bagi kelancaran bisnis
Internasional , hal ini disebabkan karena bahasa adalah merupakan alat
komunikasi yang vital baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.
3. Kondisi politik dan
hukum/perundang-undangan
Hubungan
politik yang kurang baik antara satu negara dengan negara yang lain juga akan
mengakibatkan terbatasnya hubungan bisnis dari kedua negara tersebut.Ketentuan
hukum ataupun perundang-undang yang berlaku di suatu negara kadang juga
membatasi berlangsungnya bisnis internasional.
4. Hambatan operasional
Hambatan
perdagangan atau bisnis internasional yang lain adalah berupa masalah
operasional yakni transportasi atau pengangkutan barang yang diperdagangkan
tersebut dari negara yang satu ke negara yang lain. Peraturan atau kebijakan Negara lain dalam bentuk proteksi
yaitu –> usaha melindungi industry-industri di dalam negri.
SUMBER :
https://ghinanurjihan.wordpress.com/2016/12/30/bisnis-internasional-pengantar-bisnis/ (diakses
23/12/2017)
Pengantar Bisnis Tentang CSR
CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
A. Definisi CSR menurut beberapa ahli dibidangnya
1. World
Business Council for sustainable development
komitmen
berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberi
kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan
karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada
umumnya.
2. Commision
of the European Communities:
Tanggung
jawab sosial perusahaan pada dasarnya adalah sebuah konsep dimana perusahaan memutuskan
secara suka rela untuk memberikan kontribusi demi mewujudkan masyarakat yang
lebih baik dan lingkungan yang lebih bersih.
3. CSR
Asia:
Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para pihak yang berkepentingan.
Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para pihak yang berkepentingan.
4. Business
for Social Responsibility:
Corporate social responsibility (CSR) adalah pencapaian kesuksesan komersil dalam artian penghargaan terhadap nilai kesusilaan dan penghormatan terhadap manusia, masyarakat dan lingkungan
Corporate social responsibility (CSR) adalah pencapaian kesuksesan komersil dalam artian penghargaan terhadap nilai kesusilaan dan penghormatan terhadap manusia, masyarakat dan lingkungan
5. Ethics in
Action Awards:
Corporate social responsibility (CSR) adalah istilah yang menjelaskan tentang kewajiban perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang berkepentingan disetiap operasi dan aktivitasnya.
Corporate social responsibility (CSR) adalah istilah yang menjelaskan tentang kewajiban perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang berkepentingan disetiap operasi dan aktivitasnya.
6. Khourey:
Corporate social responsibility (CSR) adalah keseluruhan hubungan antara perusahaan dengan pihak yang berkepentingan(Stakeholders).
Corporate social responsibility (CSR) adalah keseluruhan hubungan antara perusahaan dengan pihak yang berkepentingan(Stakeholders).
7. Indian
NGO.com:
Corporate social responsibility (CSR) adalah sebuah proses bisnis dimana institusi dan individual sangat sensitif dan berhati-hati terhadap akibat langsung maupun tidak langsung dari aktivitas internal dan eksternal masyarakat, alam dan dunia luar.
Corporate social responsibility (CSR) adalah sebuah proses bisnis dimana institusi dan individual sangat sensitif dan berhati-hati terhadap akibat langsung maupun tidak langsung dari aktivitas internal dan eksternal masyarakat, alam dan dunia luar.
8. Kicullen
dan Kooistra:
Corporate social responsibility (CSR) adalah tingkatan pertanggungjawaban moral yang dianggap berasal dari perusahaan diluar kepatuhan terhadap hukum negara.
Corporate social responsibility (CSR) adalah tingkatan pertanggungjawaban moral yang dianggap berasal dari perusahaan diluar kepatuhan terhadap hukum negara.
9. Fraderick
et al:
Corporate social responsibility (CSR) dapat diartikan sebagai prinsip yang menerangkan bahwa perusahaan harus dapat bertanggungjawab terhadap efek yang berasal dari setiap tindakan didalam masyarakat maupun lingkungannya.
Corporate social responsibility (CSR) dapat diartikan sebagai prinsip yang menerangkan bahwa perusahaan harus dapat bertanggungjawab terhadap efek yang berasal dari setiap tindakan didalam masyarakat maupun lingkungannya.
Kesimpulan bahwa CSR itu merupakan sebuah
tindakan atau konsep sosial yang dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk
membantu kehidupan termasuk didalamnya lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan
masyarakat. Dengan adanya CSR perusahaan akan lebih mengedepankan
sustainability dari pada profitability perusahaan. Dimana melalui tindakannya
itu akan membawa perbaikan pada apa yang dia bantu dan kelak juga akan membawa
dampak fositif pada perusahaan berupa image perusahaan yang semakin baik di
mata masyarakat. Secara garis besar CSR lebih banyak memiliki dampak positif
dari pada dampak negatif.
B. Sejarah CSR
CSR untuk
pertama kali lahir di Amerika. Seiring berjalannya waktu CSR merambah hingga ke Indonesia. Dibawah
ini akan dijelaskan alur munculnya atau jalan cerita lahirnya CSR di dunia dan
Indonesia.
1. Sejarah CSR dunia
Sejarah CSR dunia terbagi atas beberapa fase. Untuk fase pertama pertanggungjawaban sosial perusahaan kepada masyarakat bermula di Amerika Serikat sekitar tahun 1900 atau lebih dikenal sebagai permulaan abad ke-19. Pada waktu itu Amerika sedang dalam pertumbuhan yang begitu pesat, ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan raksasa yang muncul dan hidup berdampingan dengan masyarakat. Pasa saat itu, banyak perusahaan besar menyalahgunakan kuasa mereka dalam hal diskriminasi harga, menahan buruh dan prilaku lainya yang menyalahi moral kemanusiaan. Dengan katalain, banyak perusahaan yang berbuat semena-mena terhadap masyarakat. Hal itu jelas membuat emosi masyarakat.
1. Sejarah CSR dunia
Sejarah CSR dunia terbagi atas beberapa fase. Untuk fase pertama pertanggungjawaban sosial perusahaan kepada masyarakat bermula di Amerika Serikat sekitar tahun 1900 atau lebih dikenal sebagai permulaan abad ke-19. Pada waktu itu Amerika sedang dalam pertumbuhan yang begitu pesat, ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan raksasa yang muncul dan hidup berdampingan dengan masyarakat. Pasa saat itu, banyak perusahaan besar menyalahgunakan kuasa mereka dalam hal diskriminasi harga, menahan buruh dan prilaku lainya yang menyalahi moral kemanusiaan. Dengan katalain, banyak perusahaan yang berbuat semena-mena terhadap masyarakat. Hal itu jelas membuat emosi masyarakat.
Emosi yang
meluap membuat masyarakat melakukan aksi protes. Menanggapi hal itu, pemerintah
Amerika Serikatpun melakukan perubahan peraturan perusahaan untuk mengatasi
masalah tersebut. Dimana perusahaan harus bertindak adil dan menghargai
masyarakat. Gaji buruh harus dikeluarkan dan tidak ada diskriminasi harga
kepada masyarakat Amerika.
Fase kedua evolusi munculnya CSR tercetus pada tahun 1930-an. Dimana pada waktu ini banyak protes yang muncul dari masyarakat akibat ulah perusahaan yang tidak mempedulikan masyarakat sekitarnya. Segala sesuatu hanya diketahui oleh perusahaan. Ditambah kenyataan bahwa pada saat itu telah terjadi resesi dunia secara besar-besaran yang mengakibatkan pengangguran dan banyak perusahaan yang bangkrut. Pada masa ini dunia berhadapan dengan kekurangan modal untuk input produksinya. Buruh terpaksa berhenti bekerja, pengangguran sangat meluas dan merugikan pekerjannya. Saat itu timbul ketidakpuasan terhadap sikap perusahaan yang tidak bertanggung jawab terhadap pekerjanya karena perusahaan hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut masyarakat pada masa ini perusahaan sama sekali tidak memiliki tanggung jawab moral. Menyadari kemarahan masyarakat muncul beberapa perusahaan yang meminta maaf kepada masyarakat dan memberi beberapa jaminan kepada para karyawannya yang dipecat.
Fase kedua evolusi munculnya CSR tercetus pada tahun 1930-an. Dimana pada waktu ini banyak protes yang muncul dari masyarakat akibat ulah perusahaan yang tidak mempedulikan masyarakat sekitarnya. Segala sesuatu hanya diketahui oleh perusahaan. Ditambah kenyataan bahwa pada saat itu telah terjadi resesi dunia secara besar-besaran yang mengakibatkan pengangguran dan banyak perusahaan yang bangkrut. Pada masa ini dunia berhadapan dengan kekurangan modal untuk input produksinya. Buruh terpaksa berhenti bekerja, pengangguran sangat meluas dan merugikan pekerjannya. Saat itu timbul ketidakpuasan terhadap sikap perusahaan yang tidak bertanggung jawab terhadap pekerjanya karena perusahaan hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut masyarakat pada masa ini perusahaan sama sekali tidak memiliki tanggung jawab moral. Menyadari kemarahan masyarakat muncul beberapa perusahaan yang meminta maaf kepada masyarakat dan memberi beberapa jaminan kepada para karyawannya yang dipecat.
Sesuatu yang
menarik dari kedua fase ini adalah belum dikenalnya istilah CSR. Meskipun upaya
perusahaan untuk memperhatikan masyarakat sekitarnya sudah jelas terlihat.
Namun usaha itu lebih dikenal sebatas tanggung jawab moral. Sedangkan untuk
sejarah awal penggunaan istilah CSR itu dimulai pada tahun 1970an. Pada
saat ini banyak perusahaan yang memberikan bantuan kepada masyarakat baik
berupa bantuan bencana alam, tunjangan dll.
Ketenaran istilah CSR semakin menjadi ketika buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998) terbit dipasaran. Buku ini adalah karangan John Elkington. Didalam buku ini ia mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity, yang digagas the World Commission on Environment and Development (WCED). dalam Brundtland Report (1987), Elkington mengemas CSR ke dalam tiga fokus yang senagja ia singkat menjadi 3P yaitu singkatan dari profit, planet dan people.
Ketenaran istilah CSR semakin menjadi ketika buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998) terbit dipasaran. Buku ini adalah karangan John Elkington. Didalam buku ini ia mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity, yang digagas the World Commission on Environment and Development (WCED). dalam Brundtland Report (1987), Elkington mengemas CSR ke dalam tiga fokus yang senagja ia singkat menjadi 3P yaitu singkatan dari profit, planet dan people.
Di dalam bukunya
itu ia menjelaskan bahwa Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan
ekonomi belaka (profit). Melainkan pula memiliki kepedulian terhadap
kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Menurut
Elkington, sebuah perusahaan tidak akan pernah menjadi besar jika lingkungan
dan masyarakat tidak mendukung. Bisa dibayangkan jika lingkungannya rusak, maka
tidak akan terjadi arus komunikasi dan transportasi yang bagus untuk kelancaran
usaha perusahaan.
2. Sejarah CSR Indonesia
Di Indonesia, istilah CSR dikenal pada tahun 1980-an. Namun semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an. Sama seperti sejarah munculnya CSR didunia dimana istilah CSR muncul ketika kegiatan CSR sebenarnya telah terjadi. Di Indonesia, kegiatan CSR ini sebenarnya sudah dilakukan perusahaan bertahun-tahun lamanya. Namun pada saat itu kegiatan CSR Indonesia dikenal dengan nama CSA (Corporate Social Activity) atau “aktivitas sosial perusahaan”. Kegiatan CSA ini dapat dikatakan sama dengan CSR karena konsep dan pola pikir yang digunakan hampir sama.
2. Sejarah CSR Indonesia
Di Indonesia, istilah CSR dikenal pada tahun 1980-an. Namun semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an. Sama seperti sejarah munculnya CSR didunia dimana istilah CSR muncul ketika kegiatan CSR sebenarnya telah terjadi. Di Indonesia, kegiatan CSR ini sebenarnya sudah dilakukan perusahaan bertahun-tahun lamanya. Namun pada saat itu kegiatan CSR Indonesia dikenal dengan nama CSA (Corporate Social Activity) atau “aktivitas sosial perusahaan”. Kegiatan CSA ini dapat dikatakan sama dengan CSR karena konsep dan pola pikir yang digunakan hampir sama.
Layaknya CSR,
CSA ini juga berusaha merepresentasikan bentuk “peran serta” dan “kepedulian”
perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan.misalnya, bantuan bencana alam,
pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), beasiswa dll. Melalui konsep
investasi sosial perusahaan “seat belt”, yang dibangun pada tahun 2000-an.
sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang
selalu aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada
berbagai perusahaan nasional. Dalam hal ini departemen sosial merupakan pelaku
awal kegiatan CSR di Indonesia.
Selang beberapa
waktu setelah itu, pemerintah mengimbau kepada pemilik perusahaan untuk
memperhatikan lingkungan sekitarnya. Namun, ini hanya sebatas imbauan karena
belum ada peraturan yang mengikat. Sejatinya pemerintah menegaskan
bahwa yang perlu diperhatikan perusahaan bukan hanya sebatas stakeholders atau
para pemegang saham. Melainkan stakeholders, yakni pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Stakeholders dapat mencakup
karyawan dan keluarganya, pelanggan, pemasok, masyarakat sekitar perusahaan,
lembaga-lembaga swadaya masyarakat, lingkungan, media massa dan
pemerintah.
Setelah tahun
2007 tepatnya Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang kewajiban Perseroan
Terbatas keluar, hampir semua perusahaan Indonesia telah melakukan program CSR,
meski lagi-lagi kegiatan itu masih berlangsung pada tahap cari popularitas dan
keterikatan peraturan pemerintah. Misalnya, masih banyak perusahaan yang jika
memberikan bantuan maka sang penerima bantuan harus menempel poster perusahaan
ditempatnya sebagai tanda bahwa ia telah menerima bantuan dari perusahaan
tersebut. Jika sebuah perusahaan membantu masyarat secara ikhlas maka
penempelan poster-poster itu terasa berlebihan.
C. Contoh Implementasi CSR di Indonesia
Ketika Gempa di Sumatera Barat terjadi beberapa tahun lalu. Banyak perusahaan baik dari dalam dan luar negeri datang dan memberikan bantuan. Bantuan yang mereka berikan berbagai macam bentuknya, ada yang memerikan bantuan berupa minuman, pakaian, dan makanan ringan. Mereka yang memberi tidak terhitung jumlahnya. Namun, dari semua pemberi bantuan itu, ada sebuah perusahaan yang mencolok. Perusahaan itu adalah TV ONE. Dikatakan mencolok karena proses pemberian bantuan TV ONE ini diluput media secara besar-besaran. Ditempat terjadinya pemberian bantuan itu diadakan pesta besar-besaran dan menjadi pusat perhatian.
Bantuan TV ONE diberikan pada beberapa SD disekitaran pantai Pariaman. Bantuan yang diberikan itu berupa uang untuk renovasi ruang kelas beasiswa kepada siswa yang tidak mampu dan pembangunan sekolah yang runtuh. Meski jumlah biaya yang dikeluarkan tidak jelas namun dari jenis bantuannya yang kasat mata dapat diperkiraan jumlah bantuannya sampai Miliaran rupiah. Bantuan TV ONE untuk rakyat Sumatera Barat itu hingga saat ini masih dapat kita saksikan, berupa SD-SD dengan cat dinding warna merah menyala. Hal itu jelas berbeda dengan SD lain yang biasanya berdinding warna putih merah. Bantuan ini merupakan salah satu contoh penerapan CSR di Indonesia.
C. Contoh Implementasi CSR di Indonesia
Ketika Gempa di Sumatera Barat terjadi beberapa tahun lalu. Banyak perusahaan baik dari dalam dan luar negeri datang dan memberikan bantuan. Bantuan yang mereka berikan berbagai macam bentuknya, ada yang memerikan bantuan berupa minuman, pakaian, dan makanan ringan. Mereka yang memberi tidak terhitung jumlahnya. Namun, dari semua pemberi bantuan itu, ada sebuah perusahaan yang mencolok. Perusahaan itu adalah TV ONE. Dikatakan mencolok karena proses pemberian bantuan TV ONE ini diluput media secara besar-besaran. Ditempat terjadinya pemberian bantuan itu diadakan pesta besar-besaran dan menjadi pusat perhatian.
Bantuan TV ONE diberikan pada beberapa SD disekitaran pantai Pariaman. Bantuan yang diberikan itu berupa uang untuk renovasi ruang kelas beasiswa kepada siswa yang tidak mampu dan pembangunan sekolah yang runtuh. Meski jumlah biaya yang dikeluarkan tidak jelas namun dari jenis bantuannya yang kasat mata dapat diperkiraan jumlah bantuannya sampai Miliaran rupiah. Bantuan TV ONE untuk rakyat Sumatera Barat itu hingga saat ini masih dapat kita saksikan, berupa SD-SD dengan cat dinding warna merah menyala. Hal itu jelas berbeda dengan SD lain yang biasanya berdinding warna putih merah. Bantuan ini merupakan salah satu contoh penerapan CSR di Indonesia.
D. Tahap-Tahap Penerapan CSR
Umumnya
perusahaan-perusahaan yang telah berhasil dalam menerapkan CSR menggunakan
pertahapan sebagai berikut :
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan terdiri atas tiga langkah utama yaitu: awareness Building, CSR Assessement, dan CSR manual building.
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan terdiri atas tiga langkah utama yaitu: awareness Building, CSR Assessement, dan CSR manual building.
- Awareness Building merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai arti penting CSR dan komitmen manajemen. Upaya ini dapat dilakukan antara lain melalui seminar dll.
- CSR Assessement merupakan upaya untuk memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mndapatkan prioritas perhatian dan langkah-langkah yang tepat untuk membangun struktur perusahaan yang kondusif bagi penerapan CSR secara efektif. Langkah selanjutnya adalah membangun CSR manual. Hasil assessment merupakan dasar untuk penyusunan manual atau pedoman implementasi CSR.
2. Tahap
Implementasi
Tahap implementasi terdiri atas tiga langkah yaitu, sosialisasi pelaksanaan, dan internalisasi. Sosialisasi diperlukan untuk memperkeanlkan kepada komponen perusahaan mengenai berbagai aspek yang terkait dengan implementasi CSR khususnya mengenai pedoman penerapan CSR. Tujuan utama sosialisasi ini adalah agar program CSR yang akan diimplementasikan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen perusahaan. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya harus sejalan dengan pedoman CSR yang ada. Sedangkan internalisasi adalah tahap jangka panjang. Internalisasi ini mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan CSR di dalam seluruh proses bisnis perusahaan misalnya melalui sistem manajemen kinerja dll.
Tahap implementasi terdiri atas tiga langkah yaitu, sosialisasi pelaksanaan, dan internalisasi. Sosialisasi diperlukan untuk memperkeanlkan kepada komponen perusahaan mengenai berbagai aspek yang terkait dengan implementasi CSR khususnya mengenai pedoman penerapan CSR. Tujuan utama sosialisasi ini adalah agar program CSR yang akan diimplementasikan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen perusahaan. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya harus sejalan dengan pedoman CSR yang ada. Sedangkan internalisasi adalah tahap jangka panjang. Internalisasi ini mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan CSR di dalam seluruh proses bisnis perusahaan misalnya melalui sistem manajemen kinerja dll.
3. Tahap
Evaluasi
Setelah program CSR diimplementasikan langkah berikutnya adalah evaluasi program. Tahap evaluasi ini adalah tahap yang perlu dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektifitas penerapan CSR.
Setelah program CSR diimplementasikan langkah berikutnya adalah evaluasi program. Tahap evaluasi ini adalah tahap yang perlu dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektifitas penerapan CSR.
4. Pelaporan
Pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.*
Pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.*
E. Pandangan Perusahaan Terhadap
CSR
Wibisono
(2007) menjelaskan bahwa perusahaan memiliki berbagai cara pandang dalam
memandang CSR. Berbagai cara pandang perusahaan terhadap CSR yaitu:
1.
Sekedar basa-basi atau keterpaksaan. Perusahaan mempraktekan CSR
karena external driven (faktor eksternal), environmental
driven (karena terjadi masalah lingkungan dan reputation
driven (karena ingin mendongkrak citra perusahaan).
2.
Sebagai upaya memenuhi kewajiban (compliance). CSR dilakukan karena terdapat
regulasi, hukum, dan aturan yang memaksa perusahaan menjalankannya.
3.
CSR diimplementasikan karena adanya dorongan yang tulus dari dalam (internal driven).
Perusahaan menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan sekedar kegiatan ekonomi
untuk menciptakan profit demi kelangsungan bisnisnya saja, melainkan juga
tannggunga jawab sosial dan lingkungan.
F. Alasan perusahaan menerapkan CSR yaitu:
- Golongan pertama, sekedar basa-basi dan keterpaksaan, artinya CSR dipraktekkan lebih karena faktor eksternal (external driven), faktor sosial (social driven), faktor lingkungan (environmental driven) dan faktor reputasi (reputation driven).
- Golongan kedua, dilakukan agar sesuai dengan peraturan (compliance). Artinya CSR ini diterapkan karena ada regulasi, undang-undang dan peraturan yang mengaturnya.
- Golongan yang ketiga adalah golongan dimana CSR sudah dianggap sebagai budaya kerja perusahaan. Artinya pada golongan ini, perusahaan sudah mempunyai mindset bahwa sejalan dengan maksimalisasi profit, kesejahteraan sosial dan lingkungan harus tetap dikembangkan seiring sejalan. Dalam fase ini CSR sudah tidak lagi dianggap sebagai keterpaksaan akan tetapi merupakan kebutuhan dengan dasar pemikiran bahwa menggantungkan perusahaan pada kesehatan finansial saja tidak akan berlangsung lama jika tidak diimbangi dengan pengembangan sosial dan lingkungan.
Dari ketiga dasar perusahaan melakukan CSR diatas golongan yang paling baik adalah golongan ketiga. Namun, masih sangat disayangkan karena pada kenyataannya masih banyak perusahaan yang bertindak pada golongan pertama dan kedua. Banyak dari perusahaan yang melakukan CSR hanya untuk mendapatkan reputasi dan terikat dengan peraturan pemerintah yang memberi kewajiban kepada Perseroan Terbatas untuk membantu kehidupan masyarakat sekitarnya.
G. Karakteristik CSR
Dalam
aktualisasi Good Corporate Governance, kontribusi suatu perusahaan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengalami metamorfosis, dari yang
bersifat charity menjadi aktivitas yang lebih menekankan pada
penciptaan kemandirian masyarakat, yakni program pemberdayaan (Ambaddar, 2008).
Metamorfosis kontribusi perusahaan tersebut diungkapkan oleh Za’im Zaidi (2003) dalam Ambaddar
(2008), yaitu dapat dilihat dalam tabel berikut:
H. Implementasi CSR
Implementasi
CSR di perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi
tersebut diantaranya adalah komitmen pimpinannya, ukuran atau kematangan perusahaan,
regulasi atau sistem perpajakan yang diatur pemerintah dan sebagainya
(Wibisono, 2007). Merujuk pada Saidi dan Abidin (2004) dalam Suharto
(2006), ada empat model atau pola CSR yang umumnya diterapkan oleh perusahaan
di Indonesia, yaitu:
1.
Keterlibatan langsung. Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung
dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke
masyarakat tanpa perantara.untuk menjalankan tugas ini, sebuah perusahaan
biasanya menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate
secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dari
tugas pejabat public relation.
2.
Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan. Perusahaan mendirikan
yayasan sendiri di bawah perusahaan atau grupnya. Model ini merupakan adopsi
dari model yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan dinegara maju.
Biasanya perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin atau dana abadi yang
dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan yayasan.
3.
Bermitra dengan pihak lain. Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama
dengan lembaga sosial/organisasai non-pemerintah, instansi pemerintah,
universitas atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam
melaksanakan kegiatan sosialnya.
4.
Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium. Perusahaan turut mendirikan,
menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan
sosial tertentu. Dibandingkan dengan model lainnya, pola ini lebih berorientasi
pada pemberian hibah perusahaan yang bersifat :hibah pembangunan”. Pihak
konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercaya oleh perusahaan-perusahaan
yang mendukungnya secara pro aktif mencari mitra kerjasama dari kalangan
lembaga operasional dan kemudian mengembangkan program yang disepakati bersama.
I. Manfaat CSR
CSR
mendatangkan berbagai manfaat bagi perusahaan dan masyarakat yang terlibat
dalam menjalankannya. Menurut Wibisono (2007) manfaat bagi perusahaan yang
berupaya menerapkan CSR, yaitu dapat mempertahankan atau mendongkrak reputasi
dan brand image perusahaan, layak mendapatkan social licence to
operate, mereduksi risiko bisnis perusahaan, melebarkan akses sumberdaya,
membentangkan akses menuju market, mereduksi biaya, memperbaiki
hubungan dengan stakeholders, memperbaiki hubungan dengan regulator,
meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan serta berpeluang mendapatkan
penghargaan. Sementara menurut Sukada, dkk (2006), manfaat CSR diantaranya bagi
perusahaan-perusahaan yang memiliki CSR yang baik berkesempatan mendapatkan
sumberdaya manusia terbaik, produktivitas pekerja di perusahaan bereputasi baik
dicatat lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang bereputasi lebih rendah
selain juga jauh lebih loyal, mendapatkan kesempatan investasi yang lebih
tinggi di masa depan, dan sebagainya. Sedangkan manfaat CSR bagi masyarakat
menurut Ambadar (2008), yaitu dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia,
kelembagaan, tabungan, konsumsi dan investasi dari rumah tangga warga
masyarakat.
J. Peraturan Perundang-Undangan
CSR
Di
Indonesia program CSR semakin menguat setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU
perseroan terbatas No.40 tahun 2007, di mana dalam pasal 74 antara lain diatur
bahwa :
- Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan.atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
- Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana di maksud ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
- Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundanguandangan.
- Ketentuan lebih kanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam pasal 74 ayat 1 disebutkan bahwa perseroan (mengacu pada UU No.40/2007 pasal 1 ayat 1 bahwa perseroan diartikan sebagai perseroan terbatas) yang menjalankan usaha di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan, namun tidak dijelaskan apakah hal tanggung jawab yang sama juga diwajibkan bagi entitas usaha yang tidak berbentuk badan hukum perseroan terbatas. Sehingga, hal ini dapat menimbulkan penafsiran bahwa entitas usaha yang tidak berbentuk perseroan terbatas tidak diwajibkan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (mengacu pada UU No. 40/2007) pasal 1 ayat 3 definisi tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masayrakat pada umumnya). Selanjutnya pasal 74 ayat 1 tersebut menimbulkan pertanyaan lain yaitu apakah perseroan terbatas yang tidak menjalankan kegiatan usaha dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam dapat diartikan tidak diwajibkan melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR).
Selain itu, UU
PT tidak menyebutkan secara rinci berapa besaran biaya yang harus dikeluarkan
perusahaan untuk CSR serta sanksi bagi yang melanggar. Pada ayat 2, 3 dan 4
hanya disebutkan bahwa CSR dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya
perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan
kewajaran. PT yang tidak melakukan CSR dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan
dan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai CSR ini baru akan
diataur oleh peraturan pemerintah
(belum terbit).
Peraturan lain
yang menyinggung CSR adalaha UU No.25 tahun 2007 tentang penanaman modal. Pasal
15 (b) menyatakan bahwa setiap penanaman modal berkewajiban melaksanakan
tanggung jawab sosial perusahaan. Meskipun UU ini telah mengatur sanksi-sanksi
secara terperinci terhadap badan usaha atau usaha perseorangan yang mengabaikan
CSR (pasal 34), UU ini baru mampu menjangkau investor asing dan belum mengatur
secara perihal CSR bagi perusahaan nasional.
K. Tujuan CSR
Dalam bisnis
apapun, yang diharapkan adalah keberlanjutan dan kestabilan usaha, karena
keberlanjutan akan mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan.
Setidaknya terdapat tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha harus
merespon CSR agar sejalan dengan jaminan keberlanjutan operasional perusahaan,
sebagaimana dikemukakan Wibisono (2007).
Pertama,
perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila
perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan mesti menyadari
bahwa mereka beroperasi dalam satu tatanan lingkungan masyarakat. Kegiatan
sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya imbal balik atas penguasaan
sumber daya alam atau sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat
ekspansif dan eksploratif, disamping sebagai kompensasi sosial karena timbul
ketidaknyamanan (discomfort) pada masyarakat.
Kedua, kalangan
bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis
mutualisme. Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Wajar bila perusahaan
dituntut untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, sehingga bisa
tercipta harmonisasi hubungan bahkan pendongkrakan citra dan performa
perusahaan.
Ketiga, kegiatan
CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindarkan konflik
sosial. Potensi konflik itu bisa berasal akibat dari dampak operasional
perusahaan atau akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara
masyarakat dengan komponen perusahaan.
Pada dasarnya
CSR bukanlah entitas departemen atau divisi yang sifatnya parsial, atau hanya
berfungsi dalam pendongkrakan citra sebagi bagian dari jurus jitu marketing
perusahaan, sehingga nilai perusahaan
dimata stakeholders lain khusunya masyarakat menjadi
positif.
Pada hakikatnya
CSR adalah nilai atau jiwa yang melandasi aktivitas perusahaan secara umum,
dikarenakan CSR menjadi pijakan komperhensif dalamaspek ekonomi, sosial,
kesejahteraan dan lingkungan. Tidak etis jika nilai CSR hanya diimplementasikan
untuk memberdayakan masyarakat setempat, disisi lain kesejahteraan karyawan
yang ada di dalamnya tidak terjamin, atau perusahaan tidak disiplin
dalam membayar pajak, suburnya praktik korupsi dan kolusi, atau mempekerjakan
anak.
Dalam aspek
lingkungan misalnya, terdapat perusahaan-perusahaan yang berkontribusi dalam
pencemaran terhadap alam, melakukan pemborosan energi, danbermasalah dalam
limbah. Bagaimanapun semua aspek dalam perusahaan, baik ekonomi,
sosial, kesejahteraan dan lingkungan tidak bisa lepas dari koridor tanggungjawab
sosial perusahaan. Oleh karena itu dalam CSR tercakup didalamnya empat landasan
pokok yang antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan (Tanari,
2009), diantaranya:
Landasan pokok
CSR dalam aktivitas ekonomi, meliputi:
1. kinerja keuangan berjalan baik
2. investasi modal berjalan sehat
3. kepatuhan dalam pembayaran pajak
4. tidak terdapat praktik suap/korupsi
5. tidak ada konflik kepentingan
6. tidak dalam keadaan mendukung rezim yang
korup
7. menghargai hak atas kemampuan
intelektual/paten
8. tidak melakukan sumbangan politis/ lobi
Landasan pokok
CSR dalam isu lingkungan hidup, meliputi:
1. tidak melakukan pencemaran
2. tidak berkontribusi dalam perubahan
iklim
3. tidak berkontribusi atas limbah
4. tidak melakukan pemborosan air
5. tidak melakukan praktik pemborosan
energi
6. tidak melakukan penyerobotan lahan
7. tidak berkontribusi dalam kebisingan
8. menjaga keanekaragaman hayati
Landasan pokok
CSR dalam isu sosial, meliputi:
1. menjamin kesehatan karyawan atau
masyarakat yang terkena dampak
2. tidak mempekerjakan anak
3. memberikan dampak positif terhadap
masyarakat
4. melakukan proteksi konsumen
5. menjunjung keberanekaragaman
6. menjaga privasi
7. melakukan praktik derma sesuai dengan
kebutuhan
8. bertanggungjawab dalam
proses outsourcing dan off-shoring
9. akses untuk memperoleh barang-barang
tertentu dengan harga wajar
Landasan pokok
CSR dalam isu kesejahteraan
1. memberikan kompensasi terhadap karyawan
2. memanfaatkan subsidi dan kemudahan yang
diberikan pemerintah
3. menjaga kesehatan karyawan
4. menjaga keamanan kondisi tempat kerja
5. menjaga keselamatan dan Kesehatan Kerja
6. menjaga keseimbangan kerja/hidup
Landasan diatas
memberikan sebuah gambaran bahwa CSR bukanlah hal yang parsial, melainkan suatu
urusan yang komperhensif. Tidak tepat jika perusahaan hanya fokus pada aspek
lingkungan hidup, namun abai dalam aspek kesejahteraan karyawan
dan ketidakseimbangan antar aspek lainnya. Oleh karena itu poin-poin
diatas bisa dijadikan sebagai indikator sejauhmana keseriusan perusahaan dalam
menerapkan CSR.
Selain aspek
diatas, kesungguhan perusahaan dalam menerapkan CSR bisa juga diukur dengan
menggunakan indikator Piramida CSR. Tujuannya adalah untuk mengetahui berada
pada tipe apa perusahaan dalam menerapkan CSR, apakah hanya fokus pada
tanggungjawab secara ekonomi lalu menegasikan kebutuhan masyarakat lokal, baru
pada tataran mematuhi aturan hukum, atau memang sudah berada dalam tingkat
tertinggi yaitu tanggungjawab etis, mempraktekkan CSR secara komperhensif.
L. Bentuk Model Corporate
Social Responsibility
1. Economic View
of CSR
Economic
View of CSR memandang tanggung jawab sosial sebuah perusahaan sesuai dengan apa
yang menjadi tanggung jawab perusahaan tersebut, misalnya menghasilkan produk
dan layanan yang memberikan manfaat kepada masyarakat luas dan juga segala hal
yang berhubungan dengan tindakan dari sebuah perusahaan, seperti apakah dalam
menghasilkan produknya, sebuah perusahaan telah melakukan apa yang seharusnya
dilakukan. Tanggung jawab tersebut terdiri dari 3 tingkatan, yakni apakah
perusahaan tidak menimbulkan kerusakan, apakah perusahaan telah melakukan
segala daya upaya untuk mencegah timbulnya kerusakan dan yang paling terakhir
adalah apakah perusahaan selalu konsisten untuk melakukan kebaikan dan membuat
dunia menjadi tempat yang lebih baik.
2. Philantropic
Model of CSR
Filantropi
dapat diartikan sebagai perwujudan dari rasa kasih sayang kepada sesama manusia
yang berwujud sumbangan dalam bentuk uang, barang, atau karya lainnya bagi
orang yang membutuhkan atau untuk tujuan-tujuan sosial lainnya. Filantropi dan
program tanggung jawab perusahaan (CSR) memiliki spirit yang sama, yaitu
memberikan empati kepada orang lain atas nama kemanusiaan. Dari sudut pandang
ini, perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk bekontribusi pada hal sosial
tetapi menjadi hal yang baik jika dilakukan dan sesuatu yang dapat kita dorong.
Dengan
model philanthropy dapat membangun pencitraan yang baik bagi perusaahan,
pengurangan pajak, membangun hubungan dan reputasi yang baik dengan masyarakat
dan komunitas setempat. Seperti banyak perusahaan yang mensponsori kegiatan
seni, museum, teater, atau acara sekolahan dengan harapan akan diberikan
manfaat publikasi. Walaupun beberapa perusahaan juga masih berkontribusi dengan
maksud sosial tanpa manfaat reputasi. Dalam situasi ini dimana terdapat bisnis support
pada hal sosial untuk tujuan menerima manfaat bisnis tidak berbeda dengan
pandangan ekonomi adalah investasi bukan kontribusi.
3. Social Web
Model of CSR
Social
Web Model of CSR ini mempunyai pendapat bahwa perusahaan dalam menjalankan
bisnis mempunyai hubungan keterkaitan sebagai masyarakat, dimana perusahaan
harus menjalankan tugas etika yang bersifat normatif dan memenuhi kewajiban
yang harus dipenuhi.
Perusahaan
tidak hanya berkonsentrasi pada pertanggungjawaban terhadap bisinis yang
dijalankan dan kewajiban akan tetapi model CSR ini memandang bahwa perusahaan
juga mempunyai tanggung jawab terhadap karyawan yakni memberikan hak karyawan
walaupun tidak terikat dengan hukum seperti hak karyawan mempunyai keselamatan
dan kesehatan kerja, hak karyawan untuk privasi dan proses pekerjaan karyawan.
Tambahan tanggung jawab social lainnya seperti memberikan produk yang aman,
mempromosikan barang atau jasa yang sifatnya tidak manipulatif atau ada unsur
kebohongan.
Salah
satu contoh praktek social web model adalah Teori Stakeholder, teori ini
menjelaskan bahwa perusahaan bukan hanya sekedar entitas semata yang hanya
melakukan kepentingan perusahaan sendiri akan tetapi memberikan nilai-nilai
maupun manfaat kepada stakeholdernya seperti : pemegang saham, karyawan, konsumen,
supplier, pemerintah dan lain-lain. Maksud dari tujuan stakeholder adalah
meningkatkan nilai-nilai perusahaan dari suatu yang telah dilakukan oleh
perusahaan.
4. Integrative
Model of CSR
Setiap
perusahaan membuat kontribusi yang signifikan kepada masyarakat. Pada tingkat
yang paling dasar, bisnis menawarkan barang dan jasa yang orang inginkan. Dalam
prosesnya, bisnis menyediakan modal, pekerjaan, keterampilan, ide, dan pajak.
Tapi banyak perusahaan tidak menekankan kontribusi itu. Secara internal, hanya
fokus pada apa yang bisa didapatkan dari masyarakat: input yang lebih murah,
harga yang lebih tinggi, dan regulasi yang ramah. Secara eksternal, mereka
mempromosikan CSR mengenai kontribusi kecil yang telah disumbangkan, sebagai
contoh sembako yang mereka salurkan atau taman yang telah mereka bangun –
mengabaikan kontribusi besar yang dibuat oleh bisnis sehari-hari.
Integerative
model of CSR memperluas wawasan bahwa perusahaan yang berbasis profit dapat
juga memiliki tujuan sosial sebagai pusat dari misi strategis perusahaan. Dalam
dua bidang khususnya, social entrepeneruship dan sustainability, Perusahaan
mengintegrasikan antara profit dan tanggungjawab sosial. Dikarenakan perusahaan
ini membawa tujuan sosial sebagai core business model, terintegrasi sepenuhnya
antara tujuan ekonomi dan sosial, maka perusahaan ini dapat disebut dengan
integerative model of CSR.
Dalam pandangan ini
berpendapat bahwa bisnis bergantung oleh society untuk keberlangsungan dan
pertumbuhan bahkan eksistensi perusahaan tersebut sendirinya. Tuntutan sosial
dianggap sebagai cara di mana masyarakat berinteraksi dengan bisnis dan
memberikan legitimasi dan prestise tertentu. Manajemen perusahaan harus
mempertimbangkan tuntutan sosial, dan mengintegrasikan mereka sedemikian rupa
bahwa bisnis beroperasi sesuai dengan nilai sosial.SUMBER :
http://gunnaharmyani.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-dan-landasan-csr.html (diakses 23/12/2017)
http://uchinfamiliar.blogspot.co.id/2012/03/tahap-tahap-penerapan-csr.html (diakses 23/12/2017)
https://sites.google.com/site/myrefresing82/corporate-social-responsibility-csr (diakses 23/12/2017)
http://www.rahmatullah.net/2013/11/tujuan-dan-ruang-lingkup-csr.html (diakses 23/12/2017)
https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2016/02/16/4-bentuk-model-corporate-social-responsibility/ (diakses 23/12/2017)
Langganan:
Postingan (Atom)



